Jumat, 15 Mei 2009

video

DITEMUKAN EXOPLANET TERBESAR


( Ilutrasi TrES-4 bersama dengan bintang induknya di sebelah kanan.Credit: Jeffrey Hall, Lowell Observatory )
---------------------------------------------------------------------------------------
Kelompok pemburu extrasolar planet TrES (Trans-atlantic Exoplanet Survey) kembali menemukan planet di luar Tata Surya. Tanggal 6 Agustus tim ini mengumumkan penemuan planet di rasi Hercules (1435 tahun cahaya jauhnya dari Tata Surya kita). Planet yang diberi nama TrES-4 ini ditemukan dengan menggunakan jaringan teleskop kecil terotomatisasi di Arizona, California, dan Canary Island ketika planet tersebut lewat di depan bintang yang diorbitinya (metode transit). TrES-4 ditemukan kurang dari setengah derajat dari planet ke-3 yang ditemukan kelompok ini, yakni TrES-3. Untuk perbandingan seberapa besar setengah derajat di langit itu, diameter bulan purnama kira-kira setengah derajat.


Menurut Georgi Mandushev, astronom dari Lowell Observatory dan juga penulis utama paper yang mengumumkan penemuan ini, TrES-4 merupakan extrasolar planet terbesar yang ditemukan sejauh ini. Radius TrES-4 1,67 kali radius Jupiter namun massanya lebih kecil, hanya 0,84 kali massa Jupiter. Dengan demikian, densitas planet ini sangat kecil, hanya 0,2 gram per centimeter kubik. Densitas air 1 gram per centimeter kubik. Jadi, seandainya ada kolam air yang mampu menampung TrES-4, planet tersebut akan mengapung karena densitasnya lebih kecil.


TrES-4 pertama kali diamati oleh teleskop penyurvei milik Lowell Observatory, yakni PSST (Planet Search Survey Telescope) yang diset dan dioperasikan oleh Edward Dunham dan Georgi Mandushev. Teleskop Sleuth, yang dioperasikan oleh David Charbonneau (Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics) dan Francis O’Donovan (Caltech) di Palomar Observatory, juga mendeteksi planet yang sama. Planet baru ini mengorbit bintang induknya dalam waktu 3,5 hari. Berada sekitar 7 juta km dari bintang induknya (bandingkan dengan Merkurius yang berjarak 570 juta km dari Matahari), planet ini dikategorikan “hot Jupiter“. Temperaturnya mencapai 1600 Kelvin (atau 1327 derajat Celcius). Dilihat dari massa dan jaraknya ke bintang induknya, TrES-4 mirip planet HD 209458b (planet yang mengedari bintang HD 209458). Astronom berhipotesa bahwa lapisan luar atmosfer planet tersebut bisa lepas dari gravitasi planet dan membentuk selubung yang serupa ekor komet.


Edward Dunham mengatakan bahwa TrES-4 tampaknya akan menjadi “ganjalan” dalam teori-teori extrasolar planet terkini. Massanya relatif lebih besar dari yang diperkirakan oleh model-model planet-planet gas yang luar biasa “terpanasi” (superheated giant planet). Namun, masalah ini bernilai bagus, imbuhnya, karena kita akan belajar sesuatu yang baru dengan memecahkan masalah tersebut.
Per definisi, planet yang transit merupakan planet yang lewat di depan bintang sebagaimana terlihat dari Bumi. Planet yang demikian akan menghalangi sebagian cahaya bintang sehingga menyebabkan adanya penurunan pada kecerlangan bintang yang bersangkutan. Ini sama halnya dengan Bulan yang lewat di antara Bumi dan Matahari ketika terjadi gerhana Matahari. Agar bisa mengamati peristiwa ini (sekaligus menyurvei langit), teleskop diarahkan untuk mengambil citra medan luas sebanyak mungkin pada malam-malam yang berbeda.
Jika pengamatan pada satu wilayah tertentu di langit selesai - biasanya dalam jangka waktu dua bulan - astronom mengukur kecerlangan setiap bintang di wilayah tersebut pada setiap citra yang diambil (bayangkan betapa banyaknya citra!). Akan terlihat apakah ada perubahan teratur pada kecerlangan masing-masing bintang.
Kemudian astronom akan bekerja lebih lanjut untuk melihat apakah sumber perubahan itu benar-benar karena planet atau sumber lainnya, misalnya bintang yang lebih kecil dan lebih redup. TrES-4 menghalangi sekitar 1% cahaya bintangnya ketika planet tersebut lewat di depannya. Ini efek yang kecil, namun dengan teleskop kecil dan teknik observasi yang dimiliki, tim TrES bisa mendeteksinya.Bintang induk TrES-4, yakni GSC 02620-00648, sebaya dengan Matahari namun, karena massanya lebih besar dari Matahari, dia telah berevolusi lebih cepat. Dia telah menjadi bintang kelas subraksasa, atau bintang yang telah kehabisan bahan bakar hidrogen di pusatnya, dan tengah menuju fase “raksasa merah”, bintang merah dingin seperti Arcturus atau Aldebaran.

Penemuan ini dikonfirmasi oleh Gaspar Bakos dari Hungarian Automated Telescope Network (HATNet) dan Guillermo Torres dari Harvard-Smithsonian Center for Astrophysics dengan menggunakan teleskop 10 m di W.M. Keck Observatory di puncak Mauna Kea, Hawaii. Untuk mengukur secara akurat ukuran dan sifat-sifat lain TrES-4, astronom juga menindaklanjuti observasi dengan menggunakan teleskop yang lebih besar di Lowell Observatory dan Whipple Observatory di Arizona.

Sumber : Press release Lowell Observatory dan W. M. Keck Observatory


Kamis, 14 Mei 2009

PERUBAHAN MISTERIUS DI ERIS


Permukaan plutoid terbesar tampaknya mengalami perubahan. Perubahan ini diketahui dari pengukuran lapisan-lapisan elemen di permukaan esnya. Sayangnya para astronom masih belum bisa memberikan penjelasan mengapa perubahan itu terjadi.

Eris merupakan objek terbesar yang mengorbit di luar area Neptunus dan memiliki massa sepertiga kali lebih besar dari Pluto. Eris mengembara dalam orbit yang lonjong untuk mengelilingi Matahari setiap 560 tahun. Sebuah dunia yang berada nunjauh dari bumi ini diselimuti oleh lapisan metana beku dan sejmlah kecil es nitrogen.
Saat Eris bergerak mendekati Matahari, es pada permukaan yang berhadapan dengan Matahari seharusnya mengalami penguapan dan terkondensasi ke area yang berada di balik kegelapan.

Saat ini Eris berada dekat dengan titik terjauhnya dari Matahari. Pada kondisi ini tentunya yang terjadi adalah Eris akan berada pada kondisi yang dingin dan tidak aktif. Ternyata dalam studi terbaru, permukaan planet katai satu ini mengalami perubahan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini menimbulkan pertanyaan baru di benak para peneliti. Apa yang terjadi dengan Eris, mengapa bisa ada perubahan di saat ia seharusnya tidak aktif?

TerobosanMenurut Stphen Tegler dari Northern Arizona University di Flagstaff, dari pengukuran es metana menyerap cahaya Matahari, Eris seharusnya berada dalam kondisi tidak aktif. Metana menyerap cahaya pada beberapa panjang gelombang lebih kuat dari panjang gelombang lainnya. Nah cahaya pada panjang gelombang yang lemah diserap oleh metana akan dapat menerobos lapisan metana dan mencapai bagian terdalam di bawah permukaan meskipun kepastian kedalamannya belum bisa dipastikan.

Dari hasil penelitian pada pita panjang gelombang yang berbeda dalam spektrum Eris menggunakan 6,5 meter MMT observatorium di Arizona, disimpulkan bahwa konsentrasi nitrogen tampaknya semakin meningkat selaras dengan bertambahnya kedalaman.

Hasil tersebut didapat dari observasi yang dilakukan pada 5 panjang gelombang di tahun 2007. Lantas mengapa dibilang ada yang aneh?
Ternyata penemuan di tahun 2007 ini kontradiksi dengan hasil pengamatan pada tahun 2005 yang dilakukan dengan William Herschel Telescope 4.2-m di Spanyol. Pengamatan tahun 2005 dilakukan pada 2 pita panjang gelombang dan diketahu kalau kelimpahan nitrogen paling tinggi berada dekat permukaan.

Cuaca Es?Hasil observasi di tahun 2005 dan 2007 tidak ada yang salah, namun para peneliti pun belum bisa menjelaskan mengapa bisa ada perbedaan seperti itu padahal harusnya Eris dalam kondisi tidak aktif. Salah satu kemungkinan yang diajukan adalah Eris bisa jadi mengalami perubahan cuaca yang terjadi beberapa centimeter di bagian atas permukaannya.

Tapi apakah perubahan cuaca ini bisa terjadi mengingat Eris saat ini berada jauh dari Matahari. Sangat sulit untuk bisa memperkirakan ada perubahan yang begitu dramatis terjadi dalam skala waktu yang relatif singkat.
Kemungkinan lain yang bisa saja terjadi adalah metana dan uap nitrogen berasal dari bagian dalam Eris yang meletus keluar dan berkondensasi membentuk lapisan es yang baru.

Letusan VulkanikPertanyaan lainnya, apakah Eris cukup hangat sehingga bisa terjadi jenis letusan pada suhu rendah? Letusan bukanlah sesuatu yang harus diberi perkecualian. Diharapkan misi New Horizons milik NASA yang akan diberangkatkan ke Pluto thaun 2015 akan dapat mengungkap jawaban mister tersebut. New Horizons akan menyelidiki apakah di Pluto pernah terjadi hal yang mirip. Seandainya memag ada, maka hal yang sama tentu bisa terjadi juga di Eris.

Alternatif lainnya adalah bisa saja kedua tim menyelidiki area yang berbeda dari planet katai tersebut. Pengamatan terbaru juga menunjukan Eris memiliki panjang hari yang hampir sama dengan Bumi, karena ia berotasi pada sumbunya setiap 26 jam.

Observasi lanjutan akan dapat menelusuri penampakan planet ini dalam rotasi multipel untuk menentukan kemungkinan adanya komposisi tambalan disana.
Sumber : New Scientist

MAKEMAKE PENGHUNI BARU PLANET KATAI ( PLANET KERDIL )


Setelah menunggu 3 tahun lamanya, akhirnya objek sabuk kuiper 2005 FY9 yang juga disebut sebagai kelinci paskah mendapatkan nama resminya. Tidak hanya itu, ia juga diklasifikasikan sebagai planet katai dan plutoid. Nama resmi si kelinci paskah yang ditemukan beberapa hari sebelum Paskah 2005 adalah make-make atau yang dilafalkan mah-kay mah-kay.

Makemake adalah dewa kemanusiaan dan dewa kesuburan dalam mitologi di Kepulauan Pasifik Selatan yakni di pulau Rapa Nui. Di sana makemake dikenal sebagai dewa yang memimpin suku manusia burug Tangata dan ia adalah dewa yang berbentuk burung laut. Menurut legenda si burung laut ini adalah inkarnasi dari makemake. Simbol makemake adalah manusia berkepala burung dan bisa ditemukan di petrolypse di kepulauan tersebut.

Makemake yang bagi Mike Brown penemunya masih dipanggil kelinci Paskah, merupakan salah satu penghuni baru kelas planet katai dengan ukuran 2/3 Pluto dan orbitnya tidaklah aneh. Yang pasti makemake ini merupakan salah satu objek yang paling terang di Sabuk Kuiper selain Pluto. Permukaan makemake dilapisi oleh sejumlah besar es metana murni yang sangat menarik untuk diteliti lebih lanjut. Makemake memliki kecerlangan 16.7 magnitud dan bisa dilihat di konstelasi Coma Berenices dengan diameter sekitar 1500 km dan sampai saat ini belum ada satelit yang terdeteksi disekitar makemake.
Sumber : Mike Brown

2006 SQ372 PERJUMPAAN SETIAP 22500 TAHUN


Orbit SQ372 (biru) dibandingkan dengan orbit Neptunus, Pluto dan Sedna (putih, hijau, merah). Kredit : N. Kaib
Sebuah planet minor bernama 2006 SQ372 dengan jarak sekitar lebih dari 3 milyar km dari Bumi atau sedikit lebih dekat dari Neptunus, tengah melintasi orbit Neptunus dalam perjalanannya mengitari Matahari. Objek kecil yang menyerupai komet raksasa ini membutuhkan waktu 22500 tahun untuk menyelesaikan perjalanannya mengitari Matahari. Saat ia berada pada jarak terjauhnya dari Matahari saat itu si objek 2006 SQ372 akan berada pada jarak 241 milyar km atau mendekati 1600 kali jarak Bumi - Matahari.

Bidang orbit planet mayor yang ada di Tata Surya memiliki bentuk hampir lingkaran, namun untuk kasus 2006 SQ372 orbitnya berbentuk ellips. Satu-satunya objek yang bisa dibandingkan dengan 2006 SQ372 adalah Sedna (planet katai yang ditemukan tahun 2003). Objek baru ini jauh lebih kecil dari Sedna, dengan diameter hanya sekitar 48-96 km dan bukannya 1000 km. Pada dasarnya oobjek ini adalah sebuah komet, namun ia tak pernah bergerak sampai pada jarak yang cukup dekat dengan Matahari sehingga bisa memiliki ekor terang hasil penguapan gas dan debu.

Tim yang dipimpin Andrew Becker astronom dari Washington University, menemukan komet tersebut saat mengaplikasikan simulasi terhadap data ang sudah diambil untuk mencari ledakan supernova pada jarak milyaran tahun cahaya untuk mengukur pengembangan alam semesta.

Dalam pencarian ini, jika objek yang meledak dapat ditemukan maka objek yang bergerak pun akan dapat dikenali, walaupun untuk itu dipelukan alat yang berbeda. Dan menurut salah satu anggota tim, Lynne Jones dari University of Washington, objek yang cukup dekat dan dapat berubah posisi dalam waktu pendek adalah objek di Tata Surya.

SQ372 pertama kali ditemukan dalam deretan citra yang diambil antara 27 September - 21 Oktober 2006. Saat itu salah satu anggota tim, Andrew Puckett dari University of Alaska Anchorage, kemudian melakukan pencarian dalam survey Supernova musim gugur 2005 untuk mendapatkan deteksi yang lebih awal. Ternyata SQ372 ini sudah ditemukan dalam musim pengamatan 2006 dan 2007.
Dalam simulasi komputer yang dilakukan Nathan Kaib, mahasiswa pasca sarjana University of Washington, tampaknya SQ372 ini memiliki model pembentukan yang sama dengan Pluto yakni di sabuk serpihan es di area sekitar Neptunus dan kemudian terlontar keluar akibat pertemuan gravitasi antara Neptunus dan Uranus. Namun menurut Kaib, diperkirakan SQ372 ini berasal dari bagian dalam awan Oort.

Pada tahun 1950, Jan Oort seorang astronom asal Belanda menyimpulkan kalau sebagian besar komet berasal dari waduk es yang berada jauh. Waduk yang berisi objek-objek seperti asteroid ini sebenarnya terlontar keluar dari Tata Surya akibat tolakan gravitasi planet-planet raksasa. Sebagian besar objek di awan Oort mengorbit Matahari pada jarak beberapa bilyun km, namun gaya gravitasi dari bintang yang berpapasan dengan awan oort dapat mengubah orbit mereka. Akibatnya sebagian akan masuk ke ruang antar bintang dan sebagian lagi justru memiliki orbit yang melintasi Tata Surya dimana mereka bercahaya sebagai komet.

2006 SQ372, pada titik baliknya yang terjauh pun akan 10 kali lebih dekat ke Matahari dibanding objek-objek utama di awan Oort. Secara teori awan Oort telah diprediksikan ada semenjak beberapa tahun lalu, namun tampaknya penemuan Sedna dan SQ372 merupakan 2 objek pertama yang tampaknya berasal dari awan Oort tersebut.

Menurut Kaib, salah satu tujuan penelitian ini adalah untuk memahami asal muasal Komet namun tujuan yang lebih jauh lagi adalah untuk menelusuri sejarah awal Tata Surya dan menempatkan potongan-potongan informasi tersebut untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi saat Planet terbentuk.
Sumber : SDSS

SABUK ASTEROID DI SAUDARA TATA SURYA


Perbandingan sistem Epsilon Eridani dan tata Surya. Kredit : NASA/JPL-Caltech
Astronom baru saja menemukan saudara kembar Tata Surya yang usianya jauh lebih muda. Saudara kembar itu adalah sistem keplanetan di bintang pada jarak 10.5 tahun cahaya di rasi Eridanus. Ia adalah bintang dekat yang bisa dilihat dengan mata bugil. Epsilon Eridani sendiri masih sangat muda sekitar 850 juta tahun dan memiliki level aktivitas magnetik yang sangat tinggi dan angin bintangnya juga 30 kali lebih kuat,

Tahun 2000 ditemukan planet yang mengitari bintang ini dengan periode orbit 2502 hari dan berada pada jarak 3,4 SA dari sang bintang. Tahun ini para astronom menemukan keberadaan dua buah sabuk asteroid dan cincin es di bagian terluar, sehingga membuatnya terlihat sebagai sistem dengan cincin triple.

Sabuk dalam asteroid merupakan kembar virtual dari sabuk asteroid yang ada di Tata Surya, sementara sabuk luar asteroid memiliki materi materi 20 kali lebih banyak Keberadaan ketiga cincin materi ini berimplikasi bahwa planet yang tidak teramati itu menyembunyikan dan membentuk asteroid yang ada.

Saat ini Epsilon Eridani dan sistem keplanetan di dalamnya menunjukan kemiripan dengan Tata Surya saat seumuran dengan Epsilon Eridani. Sistem ini seperti sebuah perjalanan waktu kembali ke masa lalu Tata Surya saat ia masih muda. Tidak hanya itu, diperkirakan sistem tersebut sangat mirip dengan Tata Surya saat kehidupan pertama kali mengambil bentuk di Bumi.
Sabuk asteroid di Tata Surya yang membentang di antara Mars dan Jupiter, pada jarak 3 SA dari Matahari memiliki massa total 1/20 massa Bulan. Sabuk asteroid di Epsilon Eridani yang ditemukan oleh Teleskop Spitzer milik NASA juga berada pada jarak 3 SA dari bintang induknya. Sabuk asteroid kedua di Epsilon Eridani ditemukan berada pada jarak 20 SA (lokasi dimana Uranus berada), dengan massa sebanding dengan massa Bumi.
Cincin ketiga yang berupa materi es membentang pada jarak 35 - 100 SA dari Epsilon Eridani. Waduk es yang mirip dnegan itu juga ada di Tata Surya yakni pada jarak yang kurang lebih sama dan kita kenal sebagai Sabuk Kuiper. Cincin es yang baru ditemukan di sistem bintang tetangga ini juga mengandung materi 100 kali lebih banyak dari Sabuk Kuiper.

Saat Matahari masih berusia 850 juta tahun, kalkulasi teori menunjukan Sabuk Kuiper memang tampak sama seperti yang ditemukan di Epsilon Eridani. Sejak saat itu materi di Sabuk Kuiper mengalami penyapuan keluar dari sistem ataupun masuk ke dalam planet dalam saat terjadinya tabrakan besar-besaran atau yang dikenal dengan Late Heavy Bombardment. Bisa jadi di masa depan Epsilon Eridani juga akan mengalami pembersihan dramatik yang sama seperti Tata Surya.

Epsilon Eridani memang memiliki kemiripan dengan Tata Surya saat muda, karena itu bisa jadi di masa depan ia akan memiliki evolusi yang juga mirip dengan evolusi Tata Surya.
Data Spitzer juga menunjukan adanya gap antara ketiga cincin di sekeliling Epsilon Eridani tersebut. Gap yang ada bisa dijelaskan dengan keberadaan planet yang secara gravitasi membentuk cincin tersebut, sama seperti yang terjadi di Saturnus.

Jika ada 3 buah planet dengan massa antara Neptunus dan Jupiter mengisi gap tersebut maka ini akan memberi sebuah pembuktian lebih lanjutan akan kemiripan Tata Surya deng Epsilon Eridani. Nah seperti yang diketahui saat ini Epsilon Eridani memiliki sebuah planet yang berada pada jarak 3.4 SA dan mengitari bintang induknya dengan orbit yang sangat eksentrik dengan eksentrisitas 0.7. Temuan terbaru ini membuang kemungkinan orbit seperti itu, karena tentunya planet sudah membensihkan sabuk dalam asteroid jauh-jauh hari melalui gangguan gravitasi. Planet kedua pastinya tengah bersembunyi dekat dengan sabuk luar asteroid, dan planet ketiga bisa jadi berada pada jarak sekitar 35 SA dekat dengan tepi dalam Sabuk Kuiper di Epsilon Eridani.

Studi dan pengamatan lanjutan diharapkan dapat mengungkap dunia yang saat ini masih tersembunyi itu termasuk juga menemukan planet terrestrial yang berada di sebelah dalam sabuk asteroid tersebut.





Rabu, 13 Mei 2009

MUNGKINKAH KEHIDUPAN DI BUMI BERASAL DARI CERES ?







Mencari kehidupan lain di luar Bumi memang jadi impian banyak orang. Bisa jadi kehidupan itu ada di salah satu sudut alam semesta namun bisa juga kehidupan itu muncul di Tata Surya. Di dalam Tata Surya, pencarian memang difokuskan di Mars, atau satelit es seperti Europa. Namun di luar sana, ada sebuah tempat yang bisa jadi merupakan lokasi dimana kehidupan itu ada.
Ceres: Pilihan Yang Berbeda
Dalam pertemuan International Society for the Study of the Origin of Life di Florence, Italia, Joop Houtkooper dari University of Giessen mengajukan sebuah teori kalau kehidupan muncul di salah satu objek di sabuk asteroid, yakni Ceres. Saat ditemukan pada tahun 1801, Ceres memang diperkirakan sebagai planet, namun kemudian diketahui kalau ia merupakan asteroid. Dan dengan definisi baru dari planet, Ceres justru dikategorikan sebagai planet katai bersama Pluto, Eris dan Sedna. Pertanyaannya apakah mungkin ada kehidupan disana? Mungkinkah ada organisme extraterrestrial disana?

Ide ini muncul ketika Joop mendengar presentasi tentang satelit di Tata Surya yang memiliki potongan besar es, yang sebagian besar di antaranya berada dalam kondisi cair. Bahkan total volume air tersebut 40% lebih besar dari seluruh lautan di Bumi. Ini mengingatkan Joop pada teori terbentuknya kehidupan.
Organisme pertama kali bertumbuh dan berkembang di lubang hidrotermal, yang berada di dasar lautan dan memuntahkan senyawa kimia panas. Kebanyakan objek es di Tata Surya memiliki inti batuan, sehingga kemungkinan mereka memiliki lubang hidrotermal. Dengan demikian jika kehidupan itu memang ada dimana-mana dan tidak unik di Bumi saja maka bisa jadi di objek es inilah mereka memulai kehidupan itu.
Bukti-bukti Di awal sejarah Tata Surya, ada sebuah periode yang kita kenal sebagai ‘periode akhir tabrakan besar’. Ini adalah saat dimana tabrakan asteroid merupakan kejadian umum.
Nah jika memang ada kehidupan sebelum zaman itu, maka tentunya tumbukan asteroid akan menghancurkan semuanya. Dan kehidupan harus kembali memulai prosesnya dari awal, setelah debu kosmik dibersihkan dari bagian dalam Tata Surya. Yang menarik, bukti yang ada menunjukan kalau Ceres tidak mengalami serangan asteroid bertubi-tubi selama era tabrakan besar tersebut. Seandainya tabrakan itu terjadi, Ceres akan kehilangan selubung air untuk selamanya karena pada saat itu gaya gravitasinya terlalu lemah untuk menangkap kembali selubung air tersebut. Inilah yang sepertinya terjadi pada asteroid Vesta, yang memiliki kawah tabrakan sangat besar di tubuhnya dan tidak ada air lagi disana.

Bukti tak tersentuhnya Ceres selama periode tabrakan besar memberi kemungkinan keberadaan lautan dimana kehidupan bisa saja muncul di awal sejarah Tata Surya. Fakta ini membawa kita pada sebuah hipotesa menarik. Jika kehidupan di Bumi dihabiskan oleh tabrakan kolosal sedangkan Ceres yang “memiliki kehidupan” selamat, bisa jadi Cereslah yang menanamkan kehidupan di Bumi melalui pecahan batuan yang lepas dan menabrak Bumi. Apakah pada akhirnya kehidupan di Bumi termasuk manusia berasal dari Ceres?

Jika melihat pada planet lain yang memiliki lautan, kita bisa membandingkannya dengan Venus. Di awal sejarah Tata Surya, diperkirakan Venus memiliki lautan, namun massa planet yang besar juga berarti dibutuhkan gaya yang besar untuk bisa melepaskan sekeping kerak planetnya dan mengarahkannya ke Bumi. Objek lebih kecil seperti Ceres memiliki kecepatan lepas yang rendah sehingga jauh lebih mudah bagi kepingannya memisahkan diri. Dari kandidat yang diperhitungkan (planet, asteroid, satelit), Ceres merupakan salah satu kandidat terbaik untuk melepaskan kepingannya menuju Bumi tanpa diinterupsi objek lainnya.
Kehidupan di Ceres
Kalau di Ceres memang ada kehidupan, bisa jadi saat ini ada organisme di sana. Kemungkinan terbesar, kehidupan di Ceres berada di lautan. Untuk kehidupan di permukaan, jauh lebih sulit untuk ditemukan namun ada kemungkinan kalau di permukaan Ceres kehidupan bisa tumbuh juga. Diperkirakan kehidupan yang ada di Ceres basisnya adalah hidrogen peroxide sehingga bisa bertahan pada temperatur rendah. Namun memang belum dipastikan apakan hidrogen peroxide ada di Ceres.

Pemikiran bahwa kehidupan di Bumi ini ditanamkan dari Ceres dan masih ada bentuk kehidupannya di sana memang menarik. Namun sebelum semua itu dibuktikan, pemikiran ini hanyalah sebuah fiksi-sains bukan sebuah fakta. Memang tak gampang untuk membuktikan semua ini. Ceres merupakan sebuah dunia yang jauh dan sangat kecil. Citra terbaik yang dihasilkan saat ini masih belum bisa memberikan banyak detil, hanya beberapa kondisi permukaan. Sisanya masih misteri. Analisis spektrum menunjukkan keberadaan mineral tanah liat /lempung, dan Ceres sendiri merupakan dunia yang pipih. Ceres sampai saat ini masih jadi planet katai yang menyimpan banyak misteri.

Tapi sepertinya misteri itu tak akan terus tersimpan, karena misi DAWN milik NASA akan menjejak Ceres di tahun 2015. Saat ia tiba, ia akan menyingkap setiap misteri yang ada di Ceres. DAWN diperkirakan akan mengambil citra geysers dan erupsi air di permukaan. Pemandangan jarak dekat inilah yang kelak akan menunjukan apakah memang benar ada indikasi untuk tumbuhnya kehidupan disana.
Sumber : astrobiologi.net